SURAT Al-Fatihah yang dibaca Mbah Maridjan, mengawali ritual laku lampah bisu kuncen Gunung Merapi itu serta 20 warga Dukuh Kinahrejo, Sleman, Yogyakarta, Kamis (18/5). Ritual pukul 23.00 WIB tersebut, dimulai dari halaman rumah Mbah Maridjan sendiri.
Sebelumnya, Mbah Maridjan dan 20 warga lainnya, membaca Surat Yasin dan tahlil di Masjid Al-Amin, sekira 100 meter dari rumahnya. Usai yasinan, Mbah Maridjan berganti ageman (pakaian) berupa beskap biru tua dan blangkon. Ia didampingi empat warga, salah satunya Kades Umbulharjo Bejo Mulyo, yang juga berpakaian adat Jawa lengkap.
Sebelumnya, Mbah Maridjan dan 20 warga lainnya, membaca Surat Yasin dan tahlil di Masjid Al-Amin, sekira 100 meter dari rumahnya. Usai yasinan, Mbah Maridjan berganti ageman (pakaian) berupa beskap biru tua dan blangkon. Ia didampingi empat warga, salah satunya Kades Umbulharjo Bejo Mulyo, yang juga berpakaian adat Jawa lengkap.
RDM Rekso Argho yang dikenal dengan nama Mbah Marijan (kiri), mengadakan tahlil mengawali acara ritual ”Topo Bisu” di masjid Al-Amin di dekat rumahnya Dusun Palem Sari Desa Kinahrejo Kec. Cangkringan Kab. Sleman Jawa Tengah, Kamis (18/5) malam.*AGUS ARDJITO/”PR”
”Kami memohon teman-teman tetap menjaga kekhusyukan lelaku ini. Berilah jarak kepada kami, jangan terlalu dekat,” kata Bejo Mulyo kepada para wartawan. Dia sempat menerangkan ritual tersebut kepada ”PR” beberapa saat sebelumnya.
”Lelaku ini, sebagai bentuk permohonan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberi perlindungan nya,” tuturnya.
Ritual dilakukan dengan cara mengelilingi Dukuh Kinahrejo sebanyak tiga kali. Sedangkan rutenya dari Kinahrejo menuju Kali Adem, Ngrakah, dan masuk lagi melalui pintu gerbang di depan Balai Desa Umbulharjo. Satu kali putaran menempuh jarak sekira 5 km. Artinya, tiga kali putaran mencapai 15 km.
Mereka yang turut dalam ritual itu, juga tidak boleh berbicara sepatah kata pun. ”Kami juga tidak boleh makan, minum, merokok, dan lainnya. Yang kita lakukan hanya berjalan sambil berdoa. Kalau istirahat, harus tetap dalam posisi berdiri,” ujar Bejo.
Maka, selepas Mbah Maridjan melafalkan amin, mulailah laku lampah bisu dijalani. Puluhan wartawan, terus membuntuti rombongan Mbah Maridjan. Namun, belum sampai satu putaran, satu per satu ”berguguran” karena kelelahan.
**
RITUAL lampah bisu tersebut, juga membawa dua benda pusaka, yakni keris dan tombak. Keris yang sebelumnya disimpan di lemari itu, dibalut kain satin putih. Sedangkan tombak dibungkus kain merah-putih. Uniknya, tak ada yang melihat kapan Mbah Maridjan mengambil tombak tersebut.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, tombak sepanjang 50 cm tersebut bernama ”Tombak Baru Klinting”. Namun, Mbah Maridjan sejauh ini belum bersedia berkomentar.
Tombak itu dipercaya banyak orang sebagai penjelmaan naga penjaga Gunung Merapi. Naga mengelilingi gunung, setelah dibunuh oleh Kyai Panembahan. Hadirnya tombak tersebut, konon saat Mbah Maridjan melakukan lelaku di Paseban Srimanganti yang berjarak 2,5 km dari puncak Merapi beberapa hari lalu.
Ada keyakinan pula, selama ini tombak itu dipegang mantan Presiden RI Soeharto. Tombak tersebut ”diambil” Soeharto lewat kemampuan supranatural saat dia masih berkuasa. Namun, tombak itu muncul secara tiba-tiba saat Mbah Maridjan lelaku di Paseban Srimanganti.
Maka, spekulasi pun muncul terkait aktivitas Merapi dengan kondisi kesehatan Soeharto. Contohnya saat Merapi mengeluarkan awan panas (Senin-15/5), hari itu Pak Harto masih sadar. Tetapi sejak Pak Harto hilang kesadaran, aktivitas Merapi pun menurun hingga kini. Betulkah ada hubungan antara kondisi Pak Harto dengan aktivitas Merapi?
Yang jelas, nama lokasi pemakaman keluarga Cendana di Mangadeg, Karanganyar, mirip dengan aktivitas Merapi saat ini. Nama pemakaman itu ialah ialah Astana Giribangun. ”Giri” artinya gunung, sedangkan ”bangun” berarti tumbuh atau tidak tidur.
Jadi Giribangun bisa diartikan ”gunung yang bangun dari tidur atau gunung yang sedang tumbuh”. Merapi kini juga sedang tumbuh dengan terbentuknya kubah lava baru. (Satrya/”PR”)***
Sumber: Pikiran Rakyat, 20 Mei 2006.
”Lelaku ini, sebagai bentuk permohonan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar kita diberi perlindungan nya,” tuturnya.
Ritual dilakukan dengan cara mengelilingi Dukuh Kinahrejo sebanyak tiga kali. Sedangkan rutenya dari Kinahrejo menuju Kali Adem, Ngrakah, dan masuk lagi melalui pintu gerbang di depan Balai Desa Umbulharjo. Satu kali putaran menempuh jarak sekira 5 km. Artinya, tiga kali putaran mencapai 15 km.
Mereka yang turut dalam ritual itu, juga tidak boleh berbicara sepatah kata pun. ”Kami juga tidak boleh makan, minum, merokok, dan lainnya. Yang kita lakukan hanya berjalan sambil berdoa. Kalau istirahat, harus tetap dalam posisi berdiri,” ujar Bejo.
Maka, selepas Mbah Maridjan melafalkan amin, mulailah laku lampah bisu dijalani. Puluhan wartawan, terus membuntuti rombongan Mbah Maridjan. Namun, belum sampai satu putaran, satu per satu ”berguguran” karena kelelahan.
**
RITUAL lampah bisu tersebut, juga membawa dua benda pusaka, yakni keris dan tombak. Keris yang sebelumnya disimpan di lemari itu, dibalut kain satin putih. Sedangkan tombak dibungkus kain merah-putih. Uniknya, tak ada yang melihat kapan Mbah Maridjan mengambil tombak tersebut.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, tombak sepanjang 50 cm tersebut bernama ”Tombak Baru Klinting”. Namun, Mbah Maridjan sejauh ini belum bersedia berkomentar.
Tombak itu dipercaya banyak orang sebagai penjelmaan naga penjaga Gunung Merapi. Naga mengelilingi gunung, setelah dibunuh oleh Kyai Panembahan. Hadirnya tombak tersebut, konon saat Mbah Maridjan melakukan lelaku di Paseban Srimanganti yang berjarak 2,5 km dari puncak Merapi beberapa hari lalu.
Ada keyakinan pula, selama ini tombak itu dipegang mantan Presiden RI Soeharto. Tombak tersebut ”diambil” Soeharto lewat kemampuan supranatural saat dia masih berkuasa. Namun, tombak itu muncul secara tiba-tiba saat Mbah Maridjan lelaku di Paseban Srimanganti.
Maka, spekulasi pun muncul terkait aktivitas Merapi dengan kondisi kesehatan Soeharto. Contohnya saat Merapi mengeluarkan awan panas (Senin-15/5), hari itu Pak Harto masih sadar. Tetapi sejak Pak Harto hilang kesadaran, aktivitas Merapi pun menurun hingga kini. Betulkah ada hubungan antara kondisi Pak Harto dengan aktivitas Merapi?
Yang jelas, nama lokasi pemakaman keluarga Cendana di Mangadeg, Karanganyar, mirip dengan aktivitas Merapi saat ini. Nama pemakaman itu ialah ialah Astana Giribangun. ”Giri” artinya gunung, sedangkan ”bangun” berarti tumbuh atau tidak tidur.
Jadi Giribangun bisa diartikan ”gunung yang bangun dari tidur atau gunung yang sedang tumbuh”. Merapi kini juga sedang tumbuh dengan terbentuknya kubah lava baru. (Satrya/”PR”)***
No comments:
Post a Comment