Tuesday, August 16, 2005

RAMALAN YANG MENGGANTUNG DAN MENJEBAK

Daya-daya irasionalitas itu memiliki kemampuan ‘meramal’, hal yang menjadi salah satu daya tarik utamanya. Meramal di sini berarti kemampuan mengetahui apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang. Akan tetapi kita harus kritis terhadap daya ramal yang ditawarkan oleh daya-daya itu. Pada umumnya isi ramalan berkutat sekitar kuantitas (akan mendapat harta banyak, pangkat, jodoh, dsb.) tetapi tidak tentang kualitas (apakah dengan harta itu akan bahagia, apakah dengan pangkat itu akan mendatangkan manfaat bagi orang banyak dan bagi diri sendiri, apakah dengan istri / suami itu akan bahagia kelak).

Ramalan yang bertitik berat pada ‘kuantitas’ justru menjadi jebakan bagi yang memiliki / mendapatkan daya irasionalitas itu. Jebakan, sebab pada umumnya berbagai keuntungan yang bakal diperoleh yang muncul dalam ramalan itu terealisasi melalui proses yang tidak wajar. Lihat kembali beberapa artikel lain yang membahas tentang berbagai kemampuan yang dimiliki oleh orang yang memiliki (memelihara) daya-daya irasional itu. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa istilah ‘meramal’ dalam hal ini sebenarnya juga kurang tepat, dan merupakan ‘trik’, merupakan sebuah tipuan dan jebakan. Segala hal yang diramalkan itu terealisasi bukannya dengan sendirinya, tetapi melalui proses-proses yang tidak wajar dan irasional yang terkandung dalam daya-daya irasional itu.

Sebagai contoh, seseorang datang bertanya kepada seorang ‘pintar’ tentang kans-nya untuk menjadi, katakanlah, kepala desa. Apabila segala persyaratan telah dipenuhi oleh yang bersangkutan, maka sang orang pintar bisa saja meramalkan ‘positif’: yang bersangkutan akan menjadi kepala desa. Ramalan itu bahkan dapat dimunculkan dalam mimpi yang bersangkutan. Bagaimana prosesnya sehingga yang bersangkutan akhirnya menjadi kepala desa harus menjadi perhatian kita juga. Sejak ‘ramalan’ itu dinyatakan, maka daya-daya irasional itu mulai bekerja merealisasikannya: ia (daya-daya itu) mulai bekerja atas siapa saja yang terlibat dalam proses pemilihan itu. Kepada pesaing / kompetitor barangkali ia melancarkan serangan penggentar sehingga nyalinya menjadi ciut, kepada para pemilih (terutama yang mudah terpengaruh) ia memunculkan keterpesonaan dan ketertarikan mereka kepada calon tertentu sehingga beralih pilihan pada waktu pemilihan, dan sebagainya. Apabila cara-cara halus masih belum mempan, daya-daya semacam itu tidak jarang juga mengambil jalan ‘pintas’ yang kasar, seperti mendatangkan bala atas pesaing yang memiliki daya-daya irasional itu.

Dengan proses-proses tak wajar dan irasional seperti yang dikemukakan di atas, maka tidak heran bahwa orang-orang yang menduduki posisi tertentu karena pertolongan daya-daya irasional itu, alih-alih mendatangkan terang, kedamaian dan kegembiraan kepada diri sendiri dan kepada lingkungan yang dipimpinnya, posisi tersebut malah pada akhirnya membawa malapetaka, aib, dan jatuhnya reputasi yang dibangunnya selama bertahun-tahun.

Mengapa sampai hal itu terjadi ? Jawabannya adalah: daya-daya irasional itu tidak mampu secara terus menerus menyembunyikan berbagai ‘trik’ yang digunakannya untuk menggolkan tujuan tertentu. Akal sehat masyarakat akan mengekspose keganjilan-keganjilan yang muncul dalam keseharian orang yang mendapat posisi karena pengaruh daya-daya semacam itu. Semakin terekspose keganjilan-keganjilan itu (artinya semakin banyak orang yang mempertahankan dan memanfaatkan akal sehat), semakin lunturlah kekuata daya-daya itu.

Fenomena di atas dapat juga dijelaskan dengan cara lain. Daya-daya irasional itu memang tahu betul ia tak mampu mempertahankan kekuatan yang dimilikinya apabila dihadapkan pada akal sehat, rasionalitas, dan sikap kritis masyarakat. Ia hanya ingin menjebak agar sebanyak mungkin orang mau mendegradasi akal sehatnya agar sama dengan dia. Maka, daya-daya irasional itu memang tidak mau berurusan dengan ‘kualitas’ ramalan yang memang tak mampu direalisasikannya, yang penting ‘keinginan’ orang yang meminta dipenuhi. Itulah jebakan yang dimaksudkan dalam uraian ini. Jadi, dalam contoh di atas, daya-daya irasional itu mampu ‘meramalkan’ seseorang akan menjadi ‘kepala desa’, tetapi tak mampu meramalkan apakah ia menjadi seorang ‘kepala desa yang baik’.

Untuk menjelaskan lebih lanjut keampuhan ‘ramalan’ tadi, di bawah ini diberikan sebuah kisah nyata. Seseorang karena daya irasional telah menempati sebuah posisi yang cukup bagus dalam sebuah perusahaan. Akan tetapi ambisi yang berlebihan mendorongnya untuk merebut posisi yang lebih tinggi lagi, dua tingkat dari yang sekarang. Beginilah penuturan yang bersangkutan.

“Lumayanlah Pak, pada posisi x yang sekarang aku sudah memiliki a, b, c, dan sebagainya.** Aku tinggal menunggu saat yang tepat untuk mencapai posisi (x+2) itu. Aku yakin dalam waktu dua tiga bulan ini aku bisa sampai ke situ. Doakanlah ...”.

Penulisan kembali ke dalam kalimat seperti di atas mungkin tak mampu menggambarkan bagaimana keyakinan diri yang begitu tinggi yang bersangkutan pada saat ia menuturkannya kepada penulis. Hal ini memang merupakan salah satu ciri khas orang yang dirasuki daya-daya irasional itu. Beberapa bulan kemudian yang bersangkutan memang akhirnya sampai pada posisi incarannya itu. Akan tetapi tidak lama juga kemudian ... yang bersangkutan ‘lengser’ dari posisi itu akibat alasan yang sangat rasional: ketidakmampuan. Rasionalitas temannya yang sejawat, bawahan dan atasannya mengekspose kelemahan-kelemahan itu dan akhirnya efek daya irasional itu runtuh.

Dalam contoh terakhir ini, dengan daya irasional yang dimilikinya, yang bersangkutan mampu ‘meramalkan’ sendiri perjalanan karirnya ... sebuah ramalan jangka pendek yang juga hanya berurusan dengan ‘kuantitas’. Daya-daya irasional itu tidak mampu meramalkan apakah yang bersangkutan akan bertahan lama pada posisi itu.

Beberapa contoh berikut hampir selalu muncul setiap saat pada tabloid-tabloid terkait:
Jangan kuatir ... pada akhir tahun ini engkau akan mendapat jodoh ...”, (tetapi tidak berbicara tentang jodoh yang bagaimana)
“... mudah-mudahan ananda akan segera mendapat pekerjaan ...”, (tetapi tidak menjelaskan pekerjaan macam apa)
.... tidak terlalu lama lagi ananda akan menggapai posisi itu ...”, (tetapi tidak menjelaskan lebih dari itu ....)

Dari berbagai kasus yang penulis amati, memang ramalan semacam itu pada mulanya terealisasi, akan tetapi selalu berakhir dengan tragis (pejabat dilengserkan secara tak terhormat, seseorang akhirnya mendapat pasangan hidup tetapi tidak bahagia, seseorang mendapat harta selama beberapa saat tetapi berakhir dengan kebangkrutan yang luar biasa, sehingga mendatangkan kemalaratan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya, dan sebagainya.
Berdasarkan pengamatan inilah maka dapat kita simpulkan bahwa daya-daya irasional itu menjebak dengan jalan menawarkan berbagai kenikmatan yang menggiurkan, merealisasikan kenikmatan-kenikmatan itu atas orang yang dijerat selama beberapa saat, dan pada akhirnya mengambil kembali semuanya hingga yang bersangkutan terpelanting sehabis-habisnya.

** Berbagai fasilitas yang didapatkan melalui daya irasional itu

No comments: