Melalui kemapuan rasio, sebagaimana kita bahas dalam artikel Rasionalitas vs. Irasionalitas, kita bisa membagi dunia manusia ke dalam tiga tingkat: (1) Dunia I: Dunia Spiritual atau Dunia Supranatural, (2) Dunia II: Dunia Realitas, dan (3) Dunia III: Dunia Anatural atau Irasional.
- Dunia I: Dunia Spiritual atau Dunia Supranatural adalah dunia bagian “atas” yang menarik dan mengarahkan pikiran manusia ke hal-hal luhur, ke yang “atas”. Ia berada di luar jangkauan rasionalitas manusia, mengatasi mengatasi rasionalitas tetapi tidak bertentangan dengannya. Dunia spiritual menjadi pembersih dan pencerah pikiran dan kesadaran manusia. Ia memurnikan akal budi dan rasionalitas manusia. Perdamaian, pengharapan, cinta murni, kehidupan, pengampunan, optimisme, penyembuhan, sikap positif adalah buah-buah pengaruh Dunia Spiritual terhadap Dunia Realitas.
- Dunia II: Dunia realitas, dunia yang mewujud dalam kehidupan manusia sebagai individu atau sebagai kelompok. Dalam dunia realitas manusia bergumul dalam kehidupannya: bekerja, bermalas-malasan, berkreatifitas, berdoa, merenungkan tentang kehidupan, menyelidiki gejala-gejala alam, pergi ke dukun dan sebagainya. Dalam dunia realitas, manusia menggunakan akal budinya. Segala hal atau gejala di luar dirinya dicoba diterangkan secara rasional, karena hanya melalui itu ia bisa menangkapnya secara jelas. Dalam usahanya itu, ia menemukan bahwa sejumlah gejala tak dapat diterangkan secara rasional. Kualitas dari dunia realitas yang mewujud ditentukan oleh sejauh mana kedua pengaruh dua dunia yang lain (dunia spiritual dan dunia irasional) terhadap dunia realitas.
- Dunia III: Dunia anatural atau dunia irasional merupakan sumber irasionalitas, pembawa segala hal yang bersifat negatif, jahat, tak berkualitas. Ia selalu berusaha merongrong dunia realitas, ia menariknya ke bawah, mengacaukannya, merusakkannya. Rongrongan ini dunia irasional terhadap dunia realitas berlangsung dalam berbagai cara, mulai dari cara yang sangat halus, tidak kentara sampai pada cara kasar dan terang-terangan, tergantung dari subjek yang dirongrong. Perang, keputusaan, kebencian, kematian, pesimisme, kesombongan, iri hati, dendam, pembunuhan, penghancuran, adalah buah-buah dari pengaruh dunia irasional terhadap dunia realitas. Ia suka menyamar sebagai bagian dari Dunia I atau Dunia Spiritual melalui gejala-gejala yang seakan-akan "supranarural" pada hal merupakan gejala irasional. Orang yang telah terhisap oleh dunia irasional ini akan sangat sulit bersikap dan bertindak dengan nalar sehat.
Dalam rangkaian tulisan ini, istilah atau gejala "supranatural" dipertentangkan dengan istilah "paranormal". Dunia supranatural merujuk pada Dunia I (yang mengatasi rasionalitas kita tapi tidak bertentangan dengannya) sementara dunia paranormal merujuk pada Dunia III yang berusaha mengepung, menohok dan menghancurkan kesadaran kita.
Para skeptik seperti James Randy tidak percaya akan eksistensi dunia supranatural (Dunia I) dan Dunia III. Mereka juga tidak membedakan kedua dunia itu, dengan kata lain istilah Dunia/Gejala Supranatural dan Dunia/Gejala Paranormal adalah sama, yaitu gejala yang hanya ada dalam pikiran orang-orang yang mempercayai eksistensinya. Posisi para skeptik seakan dikuatkan melalui kenyataan bahwa hingga saat ini belum seorang pun yang mengklaim memiliki kemampuan paranormal berhasil memperlihatkan secara meyakinkan kemampuan itu di hadapan para sekptis, terutama James Randy. (Nanti, dalam tulisan lain, akan dijelaskan mengapa gejala-gejala itu tak mampu didemonstrasikan di depan para peragunya).
Sikap ekstrim (jadi sebuah irasionalitas) para skekptik ini yang tidak mengakui eksistensi baik gejala supranatural maupun gejala paranormal “dikoreksi” oleh disiplin ilmu baru: parapsikologi, yaitu studi ilmiah tentang gejala yang diduga paranormal (“scientific study of [alleged] paranormal phenomena”). Dalam parapiskologi, agaknya dunia supranatural (dunia I) dan dunia paranormal (dunia III) sebagaimana diberikan dalam klasifikasi di atas tidak dibedakan. Yang membedakan para skeptik dengan para peneliti parapsikologi tidak lain adalah sikap mereka yang bertentangan: yang pertama menyangkal eksistensi dunia I dan III sementara yang terakhir berhipotesis: gejala itu ada dan (mungkin) bisa dijelaskan secara ilmiah. Kesalahan terbesar dari parapsikologi (dan barangkali sumber utama kegagalan mereka membuktikan hipotesis tentang gejala non-natural) adalah kealpaan mereka dari awal untuk membedakan kedua dunia itu - dunia supranatural dan dunia irasional.
Para praktisi dunia paranormal selalu mengklaim diri identik dengan dunia supranatural atau dunia spiritual; dan pada saat yang sama mereka tidak malu-malu (bahkan dengan bangga) mengakui diri sebagai bagian dari dunia irasional.
Kaum teis (orang yang percaya akan Tuhan)
No comments:
Post a Comment