Irasionalitas mantra muncul dalam beberapa bentuk, antara lain: (1) “pemaksaan” permintaan si pengucap kepada sumber kekuatan, rejeki dan sebagainya (Tuhan, malaikat, setan atau alam), (2) pelecehan keilahian Tuhan, (3) persekutuan dengan setan, (4) penjerumusan akal budi melalui pemujaan benda-benda mati atau “kekuatan” alam.
Pemaksaan kehendak dan pelecehan keilahian Tuhan
Amati dengan seksama isi mantra berikut.
mantra cari jodoh [1]
ya Allah, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah...
tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah....
jika dia tidak berjodoh denganku,maka jadikanlah kami jodoh …
kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapat jodoh yang lain, selain aku …
ya Allah, kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku,
jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,
biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku …
dan saat dia telah tidak memiliki jodoh
jodohkanlah kami kembali …
ya Allah, kalau dia jodoh orang lain,
putuskanlah!
Jodohkanlah denganku …
jika dia tetap menjadi jodoh orang lain,
biar orang lain itu ketemu jodoh dengan yang lain
dan kemudian jodohkan kembali dia denganku.
Amin.
Secara sepintas, mantra di atas seperti sebuah do’a biasa – nama Tuhan disebut, dan ada permintaan: jodoh. Akan tetapi kalimat-kalimatnya tidak bernada pemintaan atau permohonan kepada yang dijunjung tinggi; sebaliknya: ia bernada memaksa dan mendikte, dan bahkan mengandung unsur memohon “keburukan” untuk pihak lain (“biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku”).
Jadi walau nama yang ilahi disebut dalam mantra, ia tidak mencerminkan penyembahan tulus kepada yang ilahi itu. Sebaliknya: mantra berkonotasi pelecehan terhadap keilahian Tuhan.
Berikut adalah satu contoh mantra kebal, yang merupakan penyalahgunaan Tanda Salib dari bahasa Latin dalam Agama Katolik.
Mantra kebal [2]
inomenine e pateri e fili sipirito. ame.
Pengucapan mantra itu dilakukan sambil menepuk 7 (tujuh) tempat di bagian depan badan yaitu: dahi, bahu kiri dan kanan, siku kiri dan kanan, dan lutut kiri dan kanan secara bergantian. Penepukan titik-titk itu dilakukan dengan pangkal telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. Menurut pemakainya, setelah pengisian itu, ia sangat percaya diri, siap untuk bertempur, dan tahan pisau. Anehnya, pemakai mantra itu bukanlah orang Katolik, ia juga mendapatkannya dari seseorang yang juga bukan Katolik.
Dari apa yang dikemukakan di atas, terlihat:
- Keampuhan mantra tidak berasal dari ketepatan pengucapan kata-kata yang dikandungnya. Sebagaimana telah dikemukakan di depan, padanya umumnya mantra salah dituliskan atau salah diucapkan oleh penggunanya.
- Keampuhan mantra tidak muncul dari pemahaman arti yang dikandung dalam mantra oleh penggunanya. Bahkan adakalanya, pemahaman arti yang dikandung dalam mantra mengakibatkan ‘pemberontakan’ kesadaran, sehingga ‘calon’ pengguna mantra justru menjauhinya. Misalnya saja, apabila yang bersangkutan tersadar bahwa apa yang terkandung dalam mantra menjurus kepada pelecehan keilahian Tuhan, maka bisa saja yang bersangkutan justru menjauhi mantra yang ditawarkan sang dukun. Akan tetapi di pihak lain, adakalanya ‘calon’ pengguna memang telah begitu terperosok ke dalam kegelapan ... maka dia tidak berkeberatan terhadap tawaran mantra yang berkonotasi pelecehan keilahian Tuhan seperti itu. Bahkan yang bersangkutan tak segan-segan menggunakan mantra yang jelas-jelas mengarah kepada penyembahan makhluk rendah dan gelap: setan.
- Keampuhan mantra berasal dari penyalahgunaan sumber mantra dan berhasilnya irasionalitas menguasai si pengguna mantra. Hal ini berarti yang bersangkutan tunduk pada daya-daya irasional yang berkodrat rendah seperti binatang-binatang, pohon-pohon, benda-benda ‘bertuah’ seperti cincin, kristal, pisau dan sebagainya. Begitu yang bersangkutan terjerembab ke dalam hal itu, maka irasionalitas mengental, yang bermuara pada terkepungnya yang bersangkutan di dalamnya. Pada saat itulah hal-hal aneh dan irasional yang dikemukakan dalam berbagai rangkaian tulisan ini muncul dan menjadi ‘keseharian’ yang bersangkutan.
- Pemberian daya magis itu dari sumbernya kepada pengejarnya terealisasikan apabila salah satu dari hal berikut dilakukan: (1) penyalahgunaan daya ilahi atau pelecehan keilahian Tuhan, (2) ketundukan atau penyerahan diri atau penyembahan langsung pada sumber daya gaib itu, atau (3) ketundukan pengejar daya gaib kepada makhluk-makhluk yang lebih rendah kodratnya dari manusia.
Sabtu, 12 Juni 2004